seperti yang kita semua ketahui bahwat penyakit diabetes merupakan penyakit pembunuh berbahaya didunia, maka kita sebagai mahasiswa keperawatan wajib mengetahu tentang penyakit diabeter, selamat membaca.
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DIABETES MELLITUS
A. pengkajian
1. Pengkajian
a. Identitas
Dalam mengkaji identitas beberapa
data didapatkan adalah nama klien, umur, pekerjaan orang tua, pendidikan orang
tua, agama, suku, alamat.Dalam
identitas data/ petunjuk yang dapat kita prediksikan adalah Umur, karena
seseorang memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes mellitus tipe II pada
umur diatas 40 tahun.
b. Keluhan
Utama
Pasien diabetes mellitus dating kerumah
sakit dengan keluhan utama yang berbeda-beda. Pada umumnya seseorang dating
kerumah sakit dengan gejala khas berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas,
dan berat badan turun.
c. Riwayat
Kesehatan
1) Riwayat
Penyakit Dahulu
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu akan
didapatkan informasi apakah terdapat factor-faktor resiko terjadinya diabetes
mellitus misalnya riwayat obesitas, hipertensi, atau juga aterosclerosis
2) Riwayat
Penyakit Sekarang
Pengkajian pada RPS berupa proses terjadinya
gejala khas dari DM, penyebab terjadinya DM serta upaya yang telah dilakukan
oleh penderita untuk mengatasinya.
3) Riwayat
Kesehatan Keluarga
Kaji adanya riwayat keluarga yang terkena
diabetes mellitus, hal ini berhubungan dengan proses genetic dimana orang tua
dengan diabetes mellitus berpeluang untuk menurunkan penyakit tersebut kepada
anaknya.
d. Pola
Aktivitas
1) Pola
Nutrisi
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau
adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan
sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat
badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status
kesehatan penderita.
2) Pola
Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan
terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri)
dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif
tidak ada gangguan.
3) Pola
Istirahat dan Tidur
Adanya poliuri, dan situasi rumah sakit
yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola
tidur dan waktu tidur penderita Pola Aktivitas
Adanya kelemahan otot – otot
pada ekstermitas menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas
sehari-hari secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.
4) Pola
persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh
akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).
5) Pola
sensori dan kognitif
Pasien dengan diabetes mellitus cenderung
mengalami neuropati / mati rasa pada kaki sehingga tidak peka terhadap adanya
trauma.
6) Pola
seksual dan reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem
pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek,
gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses
ejakulasi serta orgasme.
7) Pola
mekanisme stres dan koping
Lamanya waktu perawatan, perjalanan
penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan
reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah
tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu
menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
e. Pengkajian
Fisik
1) Keadaan
Umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran,
suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
2) Head
to Toe
a) Kepala
Leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah
pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan
pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah
goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda,
diplopia, lensa mata keruh.
b) Sistem
integumen
Kaji Turgor kulit menurun pada pasien yang
sedang mengalami dehidrasi, kaji pula adanya luka atau warna kehitaman bekas
luka, kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren,
kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
c) Sistem
pernafasan
Adakah sesak nafas menandakan pasien
mengalami diabetes ketoasidosis, kaji juga adanya batuk, sputum, nyeri dada.
Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
d) Sistem
kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer
lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi,
hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. Hal ini berhubungan erat dengan
adanya komplikasi kronis pada makrovaskuler
e) Sistem
urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia
urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.Kelebihan glukosa akan dibuang dalam
bentuk urin.
f) Sistem
muskuloskeletal
Adanya katabolisme lemak, Penyebaran lemak
dan, penyebaran masa otot,berubah. Pasien juga cepat lelah, lemah.
g) Sistem
neurologis
Berhubungan dengan komplikasi kronis yaitu
pada system neurologis pasien sering mengalami penurunan sensoris, parasthesia,
anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
f.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
adalah :
a. Pemeriksaan
darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200
mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
b. Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa
dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil
dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ),
merah ( +++ ), dan merah bata ( ++++ ).
c. Kultur
pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan
memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.
B. Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus
(Doenges, 1999) adalah :
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,
kehilangan gastrik, berlebihan diare,
mual, muntah, masukan dibatasi, kacau mental.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual,
lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme,
pelepasan hormon stress.
3) Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur
invasif dan kerusakan kulit.
4) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,
perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi,
status hipermetabolisme/infeksi.
5) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal
sumber informasi.
C. Intervensi
dan implementasi
Intervensi dan implementasi
keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus (Doenges, 1999) meliputi :
A. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis
osmotik, kehilangan gastric
berlebihan (diare, muntah) masukan dibatasi (mual,
kacau mental).
Tujuan : Kondisi
tubuh stabil, tanda-tanda vital, turgor kulit, normal.
Kriteria Hasil :
pasien menunjukan adanya perbaikan keseimbangan cairan, dengan kriteria
; pengeluaran urine yang adekuat (batas normal), tanda-tanda vital stabil,
tekanan nadi perifer jelas, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik dan
membran mukosa lembab atau basah.
a) Pantau tanda-tanda vital,
catat adanya perubahan tekanan darah ortestastik.
R :
Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
b) Kaji pola napas dan bau
napas.
R :
Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan
kompensasi
alkosis respiratoris terhadap keadaan ketoasidosis.
c) Kaji suhu,
warna dan kelembaban kulit.
R : Demam, menggigil, dan diaferesis merupakan hal umum terjadi pada proses
infeksi.
Demam dengan kulit yang kemerahan,
kering, mungkin gambaran dari dehidrasi.
d) Kaji nadi perifer, pengisian
kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
R : Merupakan indikator dari tingkat
dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.
e) Pantau
intake dan output. Catat berat jenis urine.
R :
memeberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal dan
keefektifan dari terapi yang diberikan.
f) Ukur berat badan setiap
hari.
R :
memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang
berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
g) Kolaborasi pemberian terapi
cairan sesuai indikasi
R : tipe dan
jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien
secara individual.
B. Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak
cukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia,
mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status
hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
Tujuan : berat badan dapat meningkat dengan nilai
laboratorium normal dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Kriteria Hasil :
1) pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang
penyalahgunaan zat, penurunan jumlah
intake ( diet pada status nutrisi).
2) mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup
untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi / Implementasi :
1) Timbang berat badan setiap
hari sesuai indikasi
R :
Mengetahui pemasukan makan yang adekuat.
2) Tentukan program diet dan pola makanan pasien
dibandingkan dengan makanan yang dapat
dihabiskan pasien.
R:
Mengindentifikasi penyimpangan dari kebutuhan.
3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri
abdomen/perut kembung, mual,muntah, pertahankan
puasa sesuai indikasi.
R :
mempengaruhi pilihan intervensi.
4) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti
perubahan tingkat kesadaran, dingin/lembab,
denyut nadi cepat, lapar dan pusing.
R : secara
potensial dapat mengancam kehidupan, yang harus dikali dan ditangani secara tepat.
5) Kolaborasi dalam pemberian
insulin, pemeriksaan gula darah dan diet.
R :
Sangat bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula darah.
C. Risiko tinggi terjadi
infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan
sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1) mengindentifikasi
faktor-faktor risiko individu dan intervensi untuk mengurangi
potensial
infeksi.
2) pertahankan lingkungan
aseptik yang aman.
Intervensi / Implementasi:
1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti
demam, kemerahan, adanya pus pada luka , sputum purulen, urin warna keruh dan
berkabut.
R : pasien masuk mungkin
dengan infeksi yang biasanya telah mencetus keadaan ketosidosis atau dapat mengalami infeksi
nosokomial.
2) Tingkatkan upaya pencegahan
dengan melakukan cuci tangan yang baik, setiap
kontak pada
semua barang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya
sendiri.
R :
mencegah timbulnya infeksi nosokomial.
3) Pertahankan teknik aseptik pada
prosedur invasif (seperti pemasangan infus, kateter folley, dsb).
R : Kadar glukosa yang tinggi
dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4) Pasang kateter / lakukan
perawatan perineal dengan baik.
R : Mengurangi risiko terjadinya infeksi
saluran kemih.
5) Berikan perawatan
kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. Masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen
kering dantetap kencang (tidak berkerut).
R : sirkulasi perifer bisa
terganggu yang menempatkan pasien pada penigkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi dan
infeksi.
6) Posisikan pasien pada posisi semi
fowler.
R :
memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang, menurunkan terjadinya risiko
hipoventilasi.
7) Kolaborasi antibiotik sesuai
indikasi.
R : penenganan awal dapat membantu mencegah
timbulnya sepsis.
D. Kelelahan berhubungan dengan
penurunan produksi energi metabolik, perubahan kimia darah, insufisiensi
insulin, peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.
Tujuan : Rasa lelah berkurang / Penurunan rasa lelah
Kriteria Hasil : - menyatakan mapu untuk beristirahat
dan peningkatan tenaga.
1) mampu menunjukan faktor yang
berpengaruh terhadap kelelahan.
2) Menunjukan peningkatan
kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi / Implementasi :
1) Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas. Buat
jadwal perencanaan dengan pasien dan
identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.
R : pendidikan dapat
memberikan motivasi untuk meningkatkan aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.
2) Berikan aktivitas alternatif
denagn periode istirahat yang cukup / tanpa terganggu.
R :
mencegah kelelahan yang berlebihan.
3) Pantau tanda-tanda vital
sebelum atau sesudah melakukan aktivitas.
R :
mengidentifikasi tingkat aktivitas yang ditoleransi secara fisiologi.
4) Diskusikan cara menghemat
kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
R :
dengan penghematan energi pasien dapat melakukan lebih banyak kegiatan.
5) Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan
aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan / toleransi pasien.
R : meningkatkan kepercayaan
diri / harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.
F. Kurang pengetahuan tentang
kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah
interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang
kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
1) melakukan prosedur yang
diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
2) memulai perubahan gaya hidup
yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi / Implementasi :
3) Kaji tingkat pengetahuan
klien dan keluarga tentang penyakitnya.
R : megetahui seberapa jauh
pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
4) Berikan penjelasan pada
klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
R : dengan mengetahui penyakit
dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
5) Anjurkan klien dan keluarga
untuk memperhatikan diet makanan nya.
R : diet
dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
6) Minta klien dan keluarga
mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
R : mengetahui seberapa jauh
pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang
dilakukan.
2.3 Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Diabetes Mellitus
Kasus fiktif
pasien datang dengan keluhan ada
benjolan diwajah kiri terasa sakit, timbul sejak hari Rabu 6 – 11 2012,
benjolan mula-mula kecil kemudian makin lama makin besar dan tak pernah
diapa-apakan dengan tangan, sejak 2 hari yang lalu pecah mengeluarkan nanah, panas
sejak 5 hari yang lalu. Turun setelah minum obat dan kemudian naik lagi. Mata
bengkak sejak 2 hari yang lalu tidak gatal. Pasien berobat kedokter dan minum
obat tapi tak ada perubahan. Pasien mual dan muntah setelah minum obat, nafsu
makan menurun dan badan terasa lemah, tanggal 17 – 11 – 2012 dilakukan insisi
abses pada pipih kiri dengan menggunakan anestesi local.
A.
PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
PASIEN
Nama : Tn.
R
No. Regester : 10217673
Umur : 53 Tahun.
Jenis
Kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa :
Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Satpam
Pendidikan : SMP
Bahasa
yang digunakan : Indonesia
Alamat : Manukan Kesuma,
Surabaya
Kiriman
dari : IRD RSUD Dr Soetomo
Surabaya
Tanggal
MRS : 11 Nopember 2012 Jam 14.00 WIB.
Cara
Masuk : Lewat Instalasi Rawat
Darurat RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Diagnosa
Medis :
Diabetes Melitus + Celulitis Hemifasialis
Alasan
Dirawat :
Adanya benjolan pada pipih kiri
Keluhan
Utama : Adanya
luka insisi abses pada pipih kiri
Upaya
yang telah dilakukan : ke praktek dokter diberi obat tak ada perubahan
Terapi/operasi
yang pernah dilakukan : insisi abses, tanggal 17 - 11 - 2012
2.
RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
1) Riwayat
Penyakit Dahulu : Sejak 6 bulan yang lalu pasien terdiagnosa DM, riwayat Hipertensi
dan sakit kuning (-).
2) Riwayat
Penyakit Sekarang : pasien datang dengan keluhan ada benjolan diwajah kiri
terasa sakit, timbul sejak hari Rabu 6 – 11 – 2012, benjolan mula-mula kecil
kemudian makin lama makin besar dan tak pernah diapa-apakan dengan tangan,
sejak 2 hari yang lalu pecah mengeluarkan nanah, panas sejak 5 hari yang lalu.
Turun setelah minum obat dan kemudian naik lagi. Mata bengkak sejak 2 hari yang
lalu tidak gatal. Pasien berobat kedokter dan minum obat tapi tak ada
perubahan. Pasien mual dan muntah setelah minum obat, nafsu makan menurun dan
badan terasa lemah, tanggal 17 – 11 – 2012 dilakukan insisi abses pada pipih
kiri dengan menggunakan anestesi local.
3) Riwayat
Kesehatan Keluarga : Keluarga tak ada riwayat penyakit DM
4) Keadaan
Kesehatan Lingkungan : -
5) Riwayat
Kesehatan Lainnya : Alat bantu yang dipakai : kaca mata
3. OBSERVASI
DAN PEMERIKSAAN FISIK
1) Keadaan
Umum : lemah, gelisah. Kesadaran : CM, GCS : 4, 5, 6
2) Tanda-tanda
vital :
Suhu
: 37,6
0C
Nadi
: 80
X/menit.
Tekanan darah : 110/70
mmHg. Respirasi : 18 x/menit
3) Body
Systems
(1) Pernafasan
(B 1 : Breathing)
Hidung, trahea : tak
ada kelainan
Suara tambahan : wheezing, ronhi
(-) Bentuk dada ka/ki : simetris
(2)
Cardiovascular (B 2 : Bleeding)
Keluhan
: pusing (+) sakit kepala (-), palpitasi, nyeri dada (-), kram kaki (-)
Suara jantung : S1/S2 normal/murni
(3) Persyarafan
(B 3 : Brain)
Kesadaran : CM, GCS : E = 4, V = 5, M
= 6 Pupil isokor
Refleks
tendon
: normal, persepsi sensori tak ada kelainan.
(4) Perkemihan-Eliminasi
Uri (B.4 : Bladder)
Produksi
urine : poliuri (+), frekwensi > 10/hari, warna kuning muda,
kejernihanya:
jernih.
Bau :
biasa.
Klien
mengatakan sering Bak
(5) Pencernaan-Eliminasi
Alvi (B 5 : Bowel)
Mulut
dan tenggorok : fungsi mengunyah/menelan baik, kebersihan mulut baik.
Abdomen
: bising usus (+)/normal, distensi (-), nyeri tekan (-), hati/limfa tak teraba.
BAB
: 1 x / hari, padat/semi padat, volume biasa.
Diet
: B 2100 kalori
(6) Tulang-Otot-Integumen
(B 6 : Bone)
Kemampuabn
pergerakan sendi : normal/bebas.
Ekstremitas
normal terpasang infus PZ pada lengan kiri
Tulang
belakang :tak ada kelainan. Nyeri luka insisi abses pada pipih kiri, drainase
luka insisi abses pus (+)
Kulit
: warna kulit pigmentasi normal, akral hangat, turgor baik.
(7) Sistem
Endokrin
Terapi
hormon : regulasi insulin maintenance 12-12-12 SC
Riwayat
pertumbuhan/perkembangan fisik tak ada kelainan.
4. Aspek
Psikologis
Aspek Sosial/Interaksi
Dukungan keluarga : baik
Dukungan kelompok/teman/masyarakat:
baik
Reaksi
saat interaksi :
cukup kooperatif
1.
Aspek
Spiritual
Konsep
tentang penguasa
kehidupan : Tuhan.
Sumber
kekuatan saat
sakit
: Tuhan
Ritual
agama yang berarti saat ini :
melaksanakan shalat.
Sarana
yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini
: melaksanakan shalat.
Upaya
kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan agama tak ada,.
Keyakinan/kepercayaan
bahwa tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit saat ini: ya.
Keyakinan/kepercayaan
bahwa penyakit dapat disembuhkan : ya.
Persepsi
terhadap penyebab penyakit adalah suatu cobaan/peringatan dari Yang Maha Kuasa.
Klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya.
6. TERAPI
:
- Infus
PZ pada tangan
kiri
- Diet B 2100 kalori
- Regulasi
insulin maintenance -
Cefriakson 3 x 1 g
- ASA
1 x 1
-
ISDN 3 x 1
- Metronidazol
3 x 1 g
B. DIANGNOSA
KEPERAWATAN
NO
|
DATA
PENUNJANG
|
ETIOLOGI
|
MASALAH
|
DS
: Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO
: Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu :
37,60C, Nadi: 80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/
menit
Terapi:
inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronida-zol 3x1 gr, Lab.
Leukosit 23,5 x 109/L
|
Iskemik
jaringan
|
Rasa
nyaman (nyeri)
|
|
DS
: Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO
: Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital :
Suhu : 37,60C, Nadi: 80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR :
18 x/ menit
Terapi:
inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab.
Leukosit 23,5 x 109/L
|
Luka
insisi abses pada
pipih
kiri
|
Integritas
jaringan
|
|
DS
: Pasien sering bertanya-tanya tentang
keadaan penyakitnya
DO : Pasien nampak gelisah
|
Kurangn nya
pengetahuan tentang penyakitnya
|
Cemas
|
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri )
berhubungan dengan iskemik jaringan
Yang
ditandai dengan
DS :
Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO
: Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu
: 37,60C, Nadi: 80 X/
menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/ menit
Terapi:
inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab.
Leukosit 23,5 x 109/L
2.
Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya luka insisi abses pada
pipih kiri yang ditandai dengan
DS
: Pasien mengatakan rasa nyeri
luka abses pada pipih kiri.
DO
: Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu
: 37,60C, Nadi: 80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/
menit
Terapi:
inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab.
Leukosit 23,5 x 109/L
3. Cemas
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya yang ditandai dengan
DS
: Pasien sering bertanya-tanya tentang
keadaan penyakitnya
DO : Pasien nampak gelisah
No comments:
Post a Comment