Friday, 18 November 2016

manfaat minum air hangat yang sangat bermanfaat

Manfaat Minum Air Hangat Yang Sangat Bermanfaat

manfaat-minum-air-hangat-bagi-kesehatan
Banyak yang dibuat dari air hangat, anda bisa membuat kopi, susu, teh, dan juga yang lainnya. Tentu saja semua bahan yang ditambahkan pada air hangat juga akan memberikan manfaat tersendiri sesuai dengan bahan apa yang ditambahkan.
Tapi, tanpa adanya bahan tambahan ataupun hanya dengan air hangat saja, tetap bisa memberikan anda manfaat yang sangat luar biasa. Manfaat minum air hangat juga bisa dirasakan ketika anda meminum air hangat secara rutin.
Minum air hangat dapat memberikan manfaat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Manfaat dari minum air hangatdapat digunakan untuk menyembuhkan dan juga menjaga dari berbagai macam penyakit. Baik itu penyakit dengan resiko yang tinggi ataupun penyakit yang dapat dijumpai sehari-hari.
Manfaat minum air hangat tidak hanya untuk menghangatkan tubuh yang dingin ketika musim hujan ataupun ketika musim dingin, tapi tentu dapat anda gunakan untuk menyembuhkan flu dan batuk yang biasanya sering menyerang tubuh anda setiap saat. Hal lain dari minum hangat juga dapat membantu anda untuk menurunkan berat badan anda agar mencapai badan yang minimal.
Selain hal tersebut minum air hangat bermanfaat untuk merangsang pergerakan usus anda. Ketika anda meminum di pagi hari dapat membuat pergerakan usus anda lebih lancar sehingga dapat membuat pencernaan lebih lancar.
Jadi air hangat juga bisa membantu anda ketika anda terkena sembelit. Manfaat minum air hangat juga dirasa sangat bermanfaat untuk membersihkan racun didalam tubuh anda sehingga membuat anda lebih sehat. Jadi dengan selalu mengkonsumsi air hangat setiap pagi bisa membuat anda lebih sehat.
https://mulaisehat.com/manfaat-minum-air-hangat-bagi-kesehatan-tubuh-manusia/

Thursday, 3 November 2016

konsep asuhan keperawatan pada pasein diabetes mellitus

seperti yang kita semua ketahui bahwat penyakit diabetes merupakan penyakit pembunuh berbahaya didunia, maka kita sebagai mahasiswa keperawatan wajib mengetahu tentang penyakit diabeter, selamat membaca.
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS
A. pengkajian
1. Pengkajian
a.  Identitas
     Dalam mengkaji identitas beberapa data didapatkan adalah nama klien, umur, pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, agama, suku, alamat.Dalam identitas data/ petunjuk yang dapat kita prediksikan adalah Umur, karena seseorang memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes mellitus tipe II pada umur diatas 40 tahun.
b.  Keluhan Utama
     Pasien diabetes mellitus dating kerumah sakit dengan keluhan utama yang berbeda-beda. Pada umumnya seseorang dating kerumah sakit dengan gejala khas berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas, dan berat badan turun.
c.  Riwayat Kesehatan
1)  Riwayat Penyakit Dahulu
     Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu akan didapatkan informasi apakah terdapat factor-faktor resiko terjadinya diabetes mellitus misalnya riwayat obesitas, hipertensi, atau juga aterosclerosis
2)  Riwayat Penyakit Sekarang
     Pengkajian pada RPS berupa proses terjadinya gejala khas dari DM, penyebab terjadinya DM serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
3)  Riwayat Kesehatan Keluarga
     Kaji adanya riwayat keluarga yang terkena diabetes mellitus, hal ini berhubungan dengan proses genetic dimana orang tua dengan diabetes mellitus berpeluang untuk menurunkan penyakit tersebut kepada anaknya.

d.  Pola Aktivitas
1)  Pola Nutrisi
     Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan  penderita.

2)  Pola Eliminasi
     Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
3)  Pola Istirahat dan Tidur
     Adanya poliuri, dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita Pola Aktivitas
     Adanya  kelemahan otot – otot pada ekstermitas menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita  mudah mengalami kelelahan.
4)  Pola persepsi dan konsep diri
     Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).
5)  Pola sensori dan kognitif
     Pasien dengan diabetes mellitus cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada kaki sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
6)  Pola seksual dan reproduksi
     Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun  ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
7)  Pola mekanisme stres dan koping
     Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif  berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
e.  Pengkajian Fisik
1)  Keadaan Umum
     Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
2)  Head to Toe
a)  Kepala Leher
     Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
b)  Sistem integumen
     Kaji Turgor kulit menurun pada pasien yang sedang mengalami dehidrasi, kaji pula adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan suhu kulit di daerah  sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
c)  Sistem pernafasan
     Adakah sesak nafas menandakan pasien mengalami diabetes ketoasidosis, kaji juga adanya batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
d)  Sistem kardiovaskuler
     Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau   berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. Hal ini berhubungan erat dengan adanya komplikasi kronis pada makrovaskuler
e)  Sistem urinary
     Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.Kelebihan glukosa akan dibuang dalam bentuk urin.
f)  Sistem muskuloskeletal
     Adanya katabolisme lemak, Penyebaran lemak dan, penyebaran masa otot,berubah. Pasien juga cepat lelah, lemah.
g)  Sistem neurologis
     Berhubungan dengan komplikasi kronis yaitu pada system neurologis pasien sering mengalami penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
f.   Pemeriksaan Laboratorium
     Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
a.  Pemeriksaan darah
     Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
b.  Urine
     Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata  ( ++++ ).
c.  Kultur pus
     Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.
B.  Diagnosa Keperawatan
a.  Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges, 1999) adalah :
1)  Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan gastrik,    berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi, kacau mental.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
3) Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
4) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.
5) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber informasi.
C.  Intervensi dan implementasi
Intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus (Doenges,    1999) meliputi :
A. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan gastric
berlebihan (diare, muntah) masukan dibatasi (mual, kacau mental).
Tujuan :  Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda vital, turgor kulit, normal.
Kriteria Hasil :  pasien menunjukan adanya perbaikan keseimbangan cairan, dengan kriteria ; pengeluaran urine yang adekuat (batas normal), tanda-tanda vital stabil, tekanan nadi perifer jelas, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik dan membran mukosa lembab atau basah.
a)    Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah ortestastik.
       R : Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
b)    Kaji pola napas dan bau napas.
       R : Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan
kompensasi alkosis respiratoris terhadap keadaan ketoasidosis.
c)    Kaji suhu, warna dan kelembaban kulit.
R : Demam, menggigil, dan diaferesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi.
Demam dengan kulit yang kemerahan, kering, mungkin gambaran dari dehidrasi.
d)    Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
R : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.
e)    Pantau intake dan output. Catat berat jenis urine.
R : memeberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
f)    Ukur berat badan setiap hari.
R : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
g)    Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai indikasi
R : tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien secara individual.
B.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan    insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
Tujuan : berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium normal dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Kriteria Hasil :
1)    pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang penyalahgunaan zat, penurunan    jumlah intake ( diet pada status nutrisi).
2)    mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi / Implementasi :
1)    Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi
       R : Mengetahui pemasukan makan yang adekuat.
2)    Tentukan program diet dan pola makanan pasien dibandingkan dengan makanan yang  dapat dihabiskan pasien.
       R: Mengindentifikasi penyimpangan dari kebutuhan.
3)   Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual,muntah,  pertahankan puasa sesuai indikasi.
       R : mempengaruhi pilihan intervensi.
4)    Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat kesadaran,  dingin/lembab, denyut nadi cepat, lapar dan pusing.
R : secara potensial dapat mengancam kehidupan, yang harus dikali dan ditangani secara  tepat.
5)    Kolaborasi dalam pemberian insulin, pemeriksaan gula darah dan diet.
       R : Sangat bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula darah.
C.    Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1)    mengindentifikasi faktor-faktor risiko individu dan intervensi untuk mengurangi
       potensial infeksi.
2)    pertahankan lingkungan aseptik yang aman.
Intervensi / Implementasi:
1)   Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka , sputum purulen, urin warna keruh dan berkabut.
       R : pasien masuk mungkin dengan infeksi yang biasanya telah mencetus keadaan   ketosidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2)    Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik, setiap
kontak pada semua barang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya  
       sendiri.
       R : mencegah timbulnya infeksi nosokomial.
3)    Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti pemasangan infus, kateter folley,  dsb).
       R : Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi  pertumbuhan kuman.
4)    Pasang kateter / lakukan perawatan perineal dengan baik.
       R : Mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih.
5)    Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. Masase daerah tulang yang  tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering dantetap kencang (tidak berkerut).
       R : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada penigkatan risiko  terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi dan infeksi.
6)    Posisikan pasien pada posisi semi fowler.
R : memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang, menurunkan terjadinya risiko hipoventilasi.
7)    Kolaborasi antibiotik sesuai indikasi.
       R : penenganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

D.   Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.
Tujuan : Rasa lelah berkurang / Penurunan rasa lelah
Kriteria Hasil : - menyatakan mapu untuk beristirahat dan peningkatan tenaga.
1)    mampu menunjukan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan.
2)    Menunjukan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi / Implementasi :
1)    Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas. Buat jadwal perencanaan dengan pasien   dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.
       R : pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan aktivitas meskipun  pasien mungkin sangat lemah.
2)    Berikan aktivitas alternatif denagn periode istirahat yang cukup / tanpa terganggu.
       R : mencegah kelelahan yang berlebihan.
3)    Pantau tanda-tanda vital sebelum atau sesudah melakukan aktivitas.
       R : mengidentifikasi tingkat aktivitas yang ditoleransi secara fisiologi.
4)    Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
       R : dengan penghematan energi pasien dapat melakukan lebih banyak kegiatan.
5)    Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan /  toleransi pasien.
       R : meningkatkan kepercayaan diri / harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang  dapat ditoleransi pasien.
F.    Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
1)    melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
2)    memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi / Implementasi :
3)    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
       R : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang   penyakitnya.
4)    Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
       R : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan  merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
5)    Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.
       R : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
6)    Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
       R : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

2.3 Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Mellitus
Kasus fiktif
pasien datang dengan keluhan ada benjolan diwajah kiri terasa sakit, timbul sejak hari Rabu 6 – 11 2012, benjolan mula-mula kecil kemudian makin lama makin besar dan tak pernah diapa-apakan dengan tangan, sejak 2 hari yang lalu pecah mengeluarkan nanah, panas sejak 5 hari yang lalu. Turun setelah minum obat dan kemudian naik lagi. Mata bengkak sejak 2 hari yang lalu tidak gatal. Pasien berobat kedokter dan minum obat tapi tak ada perubahan. Pasien mual dan muntah setelah minum obat, nafsu makan menurun dan badan terasa lemah, tanggal 17 – 11 – 2012 dilakukan insisi abses pada pipih kiri  dengan menggunakan anestesi local.
A. PENGKAJIAN
1.  IDENTITAS PASIEN
Nama                                       :  Tn. R              No. Regester : 10217673
Umur                                       :   53 Tahun.
Jenis Kelamin                          :   Laki-laki
Suku/Bangsa                           :   Indonesia
Agama                                     :   Islam
Pekerjaan                                 :   Satpam 
Pendidikan                              :   SMP
Bahasa yang digunakan          :  Indonesia
Alamat                                                :   Manukan Kesuma, Surabaya
Kiriman dari                            :   IRD RSUD Dr Soetomo Surabaya
Tanggal MRS                          :   11 Nopember 2012 Jam  14.00 WIB.
Cara Masuk                             :   Lewat Instalasi Rawat Darurat RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Diagnosa Medis                      :  Diabetes Melitus + Celulitis Hemifasialis
Alasan Dirawat                       :  Adanya benjolan pada pipih kiri
Keluhan Utama                       :  Adanya luka insisi abses  pada pipih kiri
Upaya yang telah dilakukan : ke praktek dokter diberi obat tak ada perubahan
Terapi/operasi yang pernah dilakukan : insisi abses, tanggal 17 - 11 - 2012

2.    RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
1)    Riwayat Penyakit Dahulu : Sejak 6 bulan yang lalu pasien terdiagnosa DM, riwayat Hipertensi dan sakit kuning (-).

2)    Riwayat Penyakit Sekarang : pasien datang dengan keluhan ada benjolan diwajah kiri terasa sakit, timbul sejak hari Rabu 6 – 11 – 2012, benjolan mula-mula kecil kemudian makin lama makin besar dan tak pernah diapa-apakan dengan tangan, sejak 2 hari yang lalu pecah mengeluarkan nanah, panas sejak 5 hari yang lalu. Turun setelah minum obat dan kemudian naik lagi. Mata bengkak sejak 2 hari yang lalu tidak gatal. Pasien berobat kedokter dan minum obat tapi tak ada perubahan. Pasien mual dan muntah setelah minum obat, nafsu makan menurun dan badan terasa lemah, tanggal 17 – 11 – 2012 dilakukan insisi abses pada pipih kiri  dengan menggunakan anestesi local.

3)    Riwayat Kesehatan Keluarga : Keluarga tak ada riwayat penyakit DM

4)    Keadaan Kesehatan Lingkungan : -

5)    Riwayat Kesehatan Lainnya : Alat bantu yang dipakai :  kaca mata

3.     OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1)     Keadaan Umum :  lemah, gelisah. Kesadaran : CM, GCS : 4, 5, 6
2)     Tanda-tanda vital   :
Suhu                  : 37,6 0C               Nadi                         : 80 X/menit.
Tekanan darah   : 110/70 mmHg.   Respirasi     : 18 x/menit
3)     Body Systems

(1)    Pernafasan (B 1 : Breathing)
         Hidung, trahea    : tak ada kelainan
         Suara tambahan : wheezing, ronhi (-)   Bentuk dada ka/ki : simetris
(2)     Cardiovascular (B 2 : Bleeding)
Keluhan : pusing (+) sakit kepala (-), palpitasi, nyeri dada (-), kram kaki (-)  Suara jantung  : S1/S2 normal/murni
(3)     Persyarafan (B 3 : Brain)
   Kesadaran : CM,  GCS : E = 4, V = 5, M = 6  Pupil isokor
   Refleks tendon              : normal, persepsi sensori tak ada kelainan.
(4)     Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder)
Produksi  urine : poliuri (+), frekwensi > 10/hari, warna kuning muda, 
kejernihanya: jernih.
Bau : biasa.                 
Klien mengatakan sering Bak
(5)     Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)
Mulut dan tenggorok : fungsi mengunyah/menelan baik, kebersihan mulut baik.
Abdomen : bising usus (+)/normal, distensi (-), nyeri tekan (-), hati/limfa tak teraba.
BAB        : 1 x / hari, padat/semi padat, volume biasa.
Diet         : B 2100 kalori
(6)     Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone)
Kemampuabn pergerakan sendi : normal/bebas.
Ekstremitas normal terpasang infus PZ  pada lengan kiri
Tulang belakang :tak ada kelainan. Nyeri luka insisi abses pada pipih kiri, drainase luka insisi abses pus (+)
Kulit  : warna kulit pigmentasi normal, akral hangat, turgor baik.
(7)     Sistem Endokrin
Terapi hormon :   regulasi insulin maintenance  12-12-12  SC
Riwayat pertumbuhan/perkembangan fisik tak ada kelainan.

4.      Aspek Psikologis
         Aspek Sosial/Interaksi
         Dukungan keluarga                                : baik
         Dukungan kelompok/teman/masyarakat: baik
Reaksi saat interaksi                              : cukup kooperatif

1.            Aspek Spiritual
Konsep tentang penguasa kehidupan                : Tuhan.
Sumber kekuatan saat sakit                               : Tuhan
Ritual agama yang berarti saat ini                     : melaksanakan shalat.
Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini  : melaksanakan shalat.
Upaya kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan agama tak ada,.
Keyakinan/kepercayaan bahwa tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit saat ini: ya.
Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan  : ya.
Persepsi terhadap penyebab penyakit adalah suatu cobaan/peringatan dari Yang Maha Kuasa. Klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya.
6.       TERAPI :
- Infus PZ   pada tangan  kiri              - Diet B  2100 kalori  
- Regulasi insulin maintenance          - Cefriakson    3 x 1 g
- ASA               1 x 1                          - ISDN           3 x 1
- Metronidazol  3 x 1 g






















B. DIANGNOSA KEPERAWATAN
NO
DATA PENUNJANG
ETIOLOGI
MASALAH

DS :  Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO : Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu : 37,60C,  Nadi:  80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/ menit
Terapi: inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronida-zol 3x1 gr, Lab. Leukosit 23,5 x 109/L


Iskemik jaringan

Rasa nyaman (nyeri)


DS :  Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO :  Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu : 37,60C,  Nadi:  80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/ menit
Terapi: inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab. Leukosit 23,5 x 109/L


Luka insisi abses pada
pipih kiri

Integritas jaringan


DS :  Pasien sering bertanya-tanya tentang
      keadaan penyakitnya
DO :  Pasien nampak gelisah

Kurangn nya   pengetahuan tentang penyakitnya

Cemas


Diagnosa Keperawatan
1.  Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan
      Yang ditandai dengan
     DS  :  Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
     DO :  Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu : 37,60C,  Nadi:  80 X/    menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/ menit
      Terapi: inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab. Leukosit 23,5 x 109/L
2.   Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya luka insisi abses pada pipih kiri yang ditandai dengan
DS  :  Pasien mengatakan rasa nyeri luka abses pada pipih kiri.
DO :  Luka insisi abses pada pipih kiri, drainase pus (+), tanda vital : Suhu : 37,60C,  Nadi:  80 X/ menit.Tekanan darah 110/ 70 mmHg.RR : 18 x/ menit
Terapi: inj. Cefriakson 3x1 gr, Diet B 2100 kalori, Metronidazol 3 x 1 gr, Lab. Leukosit 23,5 x 109/L
3.  Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya yang ditandai   dengan
DS :  Pasien sering bertanya-tanya tentang keadaan penyakitnya

     DO :  Pasien nampak gelisah